Rabu, 24 Maret 2010

TUGAS&MAKALAH SEMESTER 3. ILMU KALAM

OLEH :ANDREAS YUDHA P
26.08.1.1.003
ALIRAN MU’TAZILAH

III. Pendahuluan
Rosulullah SAW pernah berkata tentang terpecahnya umat islam menjadi 73 golongan, 72 golongan masuk neraka dan hanya 1 golongan yang masuk surga, yaitu golongan yang mengikuti Rosulullah SAW dan para sahabatnya.
Firqah-firqah yang sesat dan menyesatkan diantaranya adalah khawarij, syi’ah/Rafidhah, Qodariyyah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Murji’ah, Mu’tazilah, dan masih banyak yang lainnya.
Dalam makalah ini akan membahas aliran mu’tazilah. Pembangun Firqah ini adalah Washil bin ’Atha’ dan ’Amr bin ’Ubaid. Mu’tazilah berarti mengeluarkan diri (i’tizal), yaitu memisahkan diri dari kelompok kajian al-Hasan al-Bashri. Alasan mereka memisahkan diri adalah perbedaan pendapat tenatang pelaku dosa besar.

IV. Pembahasan
Mu’tazilah adalah para pengikut Washil bin ’Atha’ (wafat Th. 131 H) dan ’Amr bin ’Ubaid (wafat Th. 144 H). Washil bin ’Atha’ berpendapat bahwa pelaku dosa besar berada pada Manzilah Bainal Manzilataini (tidak mukmin, tidak juga kafir). Mereka disebut Mu’tazilah juga karena mereka mengisolir diri dari pandangan sebagian besar umat islam ketika itu dalam hal pelaku dosa besar.
Mu’tazilah memiliki keyakinan antara lain
 Aliran Mu’tazilah memiliki 5 dasar (ushuulul khamsah), yaitu
1. Adil, yaitu menafikan qadar (takdir) Allah SWT,
2. Tauhid, yaitu menafikan sifat-sifat Allah SWT
3. Janji (al-Wa’du) yaitu Allah wajib memberi ganjaran atau pahala kepada orang yang taat.
4. Ancaman (al-Waa’id) yaitu Allah wajib menyiksa orang yang mengerjakan maksiat.
5. Manzilah Bainal Manzilataini (suatu tempat antara dua kedudukan) yaitu seseorang yang melakukan dosa besar maka ia tidak disebut kafir dan tidak juga mukmin.tapi antara kedudukan kafir dan iman.
 Mereka mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk
 Mereka mengingkari Syafa’at Nabi shalallahu’alaihi wa salam pada hari kiamat untuk pelaku dosa besar dari umat islam
 Mereka meyakini bahwa setiap muslim yang melakukan dosa besar, naka ia akan kekal di dalam neraka.
 Amar ma’ruf nahi mungkar, maksudnya ialah memberontak kepada penguasa yang zdalim
 Mengingkari sifat-sifat Allah
 Mengingkari adanya keterkaitan takdir Allah dengan perbuatan hamba, menurut mereka perbuatan hamba tidak ada kaitannya denga takdir Allah.
Menurut pendapat mu’tazilah, imam atau kepala negara dipilih dari ummat, karena Allah tidak menashkan kepada seseorang yang tertentu. Terserahlah kepada ummat, siapa yang dipilihnya yang sanggup menjalankan hukum-hkum allah, baik dari orang Quraisy ataupun lainnya.asalkan orang yang beragama islam, adil, beriman.
Menurut mu’tazilah, agama berakar dari 2 pokok yaitu wahyu Allah (kitab suci) dan akal manusia. Bagi mereka akal adalah sumber pengetahuan. Mu’atazilah menganggap pengalaman panca indera adalah sumber pengetahuan yang paling rendah, suumber pengetahuan yang paling tinggi adalah akal. Mereka membuang segala kepercayaan tradisional yang tidak berdasar, bahkan nhadist-hadist pun harus diterima dengan pertimbangan dan keraguan terlegih dahulu.
Dalm mentukan dalil menetapkan aqidah, mu’tazilah berpegang pada premis-premis logika, kecuali dalam masalah-masalah yang tidak dapat diketahui selain dengan dalil naqli. Kepercayaan mereka terhadap kekuatan akal hanya dibatasi oleh penghormatan mereka terhadap perintah-perintah syara’. Setiap masalah yang timbul dihadapkan kepada akal, yang dapat diterima akal akan mereka akui dan yang tidak dianggap kosong (ditolak). Akibat berdasarkan akal secara mutlak pada kekuatan akal, mereka menetapkan sesuatu itu buruk atau baik jika akal menyatakan demikian.
Pendapat-pendapat mu’tazilah yang bertentangan dengan Ahlussunnah. Diantaranya:
1. Tuhan tidak mempunyai sifat
2. Al-Qur’an adalah makhluk
3. Orang mukmin yang berdosa besar dan mati sebelum bertaubat, akan kekeal di neraka
4. Baik dan buruk ditentukan oleh akal
5. Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti
6. Mi’raj tidak masuk akal, karena itu tidak ada
7. Tidak ada hisab dan syafa’at
8. Tidak mengakui adzab kubur
Mu’tazilah berpendapat bahwa segala paham yang tidak cocok dengan keadilan Tuhan harus dihilangkan dan dibuang. Seperti pendapat kaum Qadariyyah yaitu keadilan Tuhan adalah segala manusia harus mempunyai kebebasan atau berhak untuk berbuat apapun jua. Manusia adalah khalikul af’al (dirinya sendiri).
Kalau manusia tidak merdeka dalam berbuat apapun, maka Tuhan tidaklah adil jika kelak meminta pertanggungjawabannya. Padahal Tuhan maha adil, jadi Tuhan wajib berbuat adil. Dalam hal ini, mu’tazilah sangat bertentangan dengan ahlussunnah. Allah itu maha berkuasa, kekuasaan Allah adalah absolut (mutlak tak terbatas), jika mu’tazilah beranggapan Allah diwajibkan melakukan sesuatu, berarti kekuasaan Allah dibatasi. Jelas-jelas mu’tazilah mengingkari sifat Allah.
Mengenai mu’jizat, mu’tazolat berpendapat bahwa Al-Qur’an dalam gaya dan bahasanya bukan merupakan mu’jizat. Hanya isi dalam Al-Qur’an yang dianggap mu’jizat. Jika Allah tidak berkata ”bahwa tidak ada manusia yang sanggup membuat kitab seperti Al-Qur’an”. Maka, mungkin akan ada manusia yang akan mengarang kitab yang lebih bagus dari Al-Qur’an. Dalam gagasan diatas dapat dipahami bahwa mu’tazilah mngingkari sabda Allah SWT.
Mu’tazilah membagi sifat-sifat Tuhan menjadi dua golongan yaitu sifat yang merupakan esensi Tuhan (sifat zanah) dan sifat yang merupakan perbuatan-perbuatan Tuhan (fi’liyah)
Sifat-sifat perbuatan terdiri dari sifat yang mengandung arti hubungan antara Tuhan dengan makhluknya seperti kehendak (al-iradah), sabda (kalam), keadilan, dan lain lain. Yang disebut sifat esensi antara lain wujud, kekekalan dimasa lampau (qidam), hidup (hayah) dan kekuasaan (qudrah).
Dengan demikian yang dimaksud kaum mu’tazilah dengan peniadaan sifat-sifat Allah memandang sebagian dari apa yang disebut golongan lain sifat sebagai esensi Tuhan dan sebagian dan sebagian lain sebagi perbuatan Tuhan. Faham ini timbul karena mereka ingin menjaga murninya ke-Maha Esa-an Tuhan yang disebut tanzih dalam istilah bahasa arab.
Perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat menurut paham mereka sebagai kewajiban tidak hanya dianut kaum mu’tazilah semata. Perbedaan antara golongan-golongan tersebut adalah dalam pelaksanaannya. Kaum kawarij yang memandang nal ma’ruf nahi mungkar perlu dipakai kekerasan walaupun terhadap umat islam sendiri.
Kaum mutazilah mempinyai musuh atau lawan jika sedang berdebat. Dalam berdebat, mutazilah menghadapi para penganut agama majusi. Penyembahan berhala.jabariah para pembuat bid`ah, para tuqoha muhaditsin, penganut madzab Asy`ariyah dan Maturidiyah.
Pada masa akhir pemerintahan Bani Umayah dan awal pemerintahan Bani`Abas banyak ditemukan orang-orang zindiq serta orang dengki yang hatinya menyembunyikan keyakinan agama peria lain-lain yang menyusup ke dalam umat Islam. Mereka sangat berbahaya karena banyak yang ditipu oleh penampilan mereka. Mu`tazilah tapi menghadapi dan melawan mereka dalam segala segi karena Mu`tazilah menganggap mereka memerangi Islam. Mu`tazilah juga berhadapan para penyembah berhala dan kaum Atheis yang menampakkan dirinya secara terang-terangan. Washil menyebarkan murid-muridnya di berbagai wilayah untuk memerangi kaum itu. Ia sendiri turun tangan menghadapi mereka. Diantaranya buku-buku yang ditulisnya ialah Alt Mas`alah (seribu persoalan) untuk menentang Manawiyah suatu paham kelahiran persia yang menghubungkan ajaran-ajaran Agama majusi dan Masehi. Para pengganti Washil melakukan hal yang sama perdebatan mereka yang berisi dalil yang kuat dan baik mengandung nasihat dan keterangan serta yang sanggup menundukkan lawan itu adalah hasil dari ilmu pengetahuan mereka yang luas dan keterlatihan di dalam bedebat. Hasilnya, sebagian lawan mereka yang bukan Islam menjadi pemeluk Islam setelah selesai berdebat para sejarawan Mu`tazilah berkata lebih dari 3000 orang yang masuk islam di tangan Abu Hudzail karena kepawaiannya dalam berdebat dan kuatnya dalil dikemukakan di samping lemahnya argumentasi lawan-lawannya.


V. Kesimpulan dan Penutup
Kaum mu`tazilah jelas merupkan golongan yang mementingkan akal mereka adalah ulama-ulama Islam yang sangat rasionalistis. Mereka sebenarnya amat kritis bukan saja terhadap hadist-hadist Nabi dan cara penafsirn Al-Quran tetapi juga kritis terhadap pengaruh-pengaruh ajaran filsafat klasik Yunani. Mereka adalah sebagai rasionalisten dan kalangan ulama-ulama Islam. Cara berikut mereka bukan mempengarui ulama ahli sunah saja. Hanya saja pendpat-pendpat golongan ini banyak ditentang oleh ulama Ahli sunah.


VI. Daftar Pustaka
Drs. Abu Ahmadi. Sejarah Agama, Ramadhani. Solo. 1994
Prof. Dr. Muhammad imam Abu zahrah. Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Logas Publishing House. Jakarta Selatan. 1996
Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Mulia Dengan Manhaj Salaf, Pustaka At-Taqwa, Bogor. 2008

TUGAS SESESTER 2. BAHASA INDONESIA

Nama : ANDREAS YUDHA P NIM : 26.08.1.1.003 DAKWAH / KPI
Manfaat Perencanaan Keuangan

Sebagai seorang eksekutif, anda termasuk beruntung. Pasalnya Anda bisa menjalin hidup dengan kualitas lebih tinggi dibanding rata-rata orang Indonesia. Akan tetapi, kebutuhan hidup berpacu dengan pendapatan. Makin tinggi pendapatan seseorang kebutuhan hidupnya makin tinggi pula. Ketika menyandang status sebagai eksekutif, anda tentu ingin mempunyai mobil bagus, rumah bagus, berdandan yang chick. Itu baru kebutuhan anda sendiri. Oleh karena itu kendati terhitung berpendapatan besar dibandingkan rata-rata pendapatan rakyat Indonesia, tak jarang para eksekutif juga mengalami mismatch dalam pengelolaan keuangan.
Ada kalanya, mereka kelebihan arus kas, tetapi pada saat lain kekurangan arus kas. Agar pasang surut kas itu dapat diantisipasi dan ditangani dengan baik, anda perlu melakukan perencanaan keuangan. Perencanaan keuangan dapat membantu anda untuk lebih mengerti kebutuhan anda maupun dalam menyusun strategi untuk memenuhinya. Selain itu, perencanaan ini juga membuat anda menjadi lebih realistik, termasuk dalam merencanakan pengeluaran agar sesuai dengan kemampuan. Perencanaan keuangan adalah suatu seni sekaligus ilmu yang harus ditekuni terus-menerus dalam menghadapi kejadian-kejadian dalam kehidupan.
Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa hal yang harus dipahami secara benar, agar perencanaan keuangan lebih cermat dan bijaksana. Pertama, anda perlu memperkirakan kondisi finansial saat ini. Artinya, anda harus menginventarisasi aset secara cermat dahulu, seperti deposito di bank, reksadana, emas, tanah, real estate dan jenis kekayaan lainnya. Jumlahkan nilai asset tersebut lalu kurangi dengan hutang yang dimiliki dan kewajiban keuangan lainnya (jika ada). Berkaitan dengan inventarisasi aset itu, anda juga harus melakukan perhitungan pendapatan dan pengeluaran. Ini untuk mengetahui, apakah di masa mendatang aset anda terus bertambah atau sebaliknya, menyusut.
Kedua, anda perlu menentukan target keuangan, boleh lebih dari satu target. Target ini menjadi lebih berarti dan memberikan motivasi apabila anda dapat membayangkan atau memvisualisasikannya. Untuk itu, yang harus anda lakukan adalah mengidentifikasi dan merinci target-target keuangan anda. Misalnya, menabung untuk menmyekolahkan anak di Universitas Indonesia lima belas tahun mendatang, membeli mobil, membayar uang muka rumah, membayar cicilan rumah dan mobil, berlibur ke luar negeri bersama keluarga pada tahun depan sampai menghadapi masa pensiun. Cobalah luangkan waktu sehari atau dua hari untuk mencatat semua yang Anda inginkan dalam hidup kita.
Ketiga, memecah target-target finansial tersebut dalam jangka pendek (kurang dari setahun), jangka menengah (1-5 tahun), dan jangka panjang (lebih dari 5 tahun). Yang perlu diperhatikan dalam target keuangan, target tersebut harus dapat diukur dengan memperkirakan biaya yang diperlukan dan kapan akan dicapai.
Keempat, menentukan kekurangan (jika ada) arus kas kita pada masa depan untuk mencapai target itu. Ini dilakukan dengan membandingkan dengan arus kas pendapatan masa depan dengan kebutuhan biaya sesuai dengan cita-cita finansial anda. Setelah kekurangan ditentukan, anda kini dapat merencanakan bagaimana menutup keuangan tersebut.



Menurut saya :
- Paragraf yang pertama termasuk paragraph induktif.
“Oleh karena itu kendati terhitung berpendapatan besar dibandingkan rata-rata pendapatan rakyat Indonesia, tak jarang para eksekutif juga mengalami mismatch dalam pengelolaan keuangan”.
- Paragraf yang kedua termasuk paragraph induktif.
“Perencanaan keuangan adalah suatu seni sekaligus ilmu yang harus ditekuni terus-menerus dalam menghadapi kejadian-kejadian dalam kehidupan.”
- Paragraf yang ketiga termasuk paragraph deduktif.
“Anda perlu memperkirakan kondisi finansial saat ini”.
- Paragraf yang keempat termasuk paragraph deduktif.
” Anda perlu menentukan target keuangan”.
- Paragraf yang kelima termasuk paragraph deduktif.
“Yang perlu diperhatikan dalam target keuangan, target tersebut harus dapat diukur dengan memperkirakan biaya yang diperlukan dan kapan akan dicapai”.
- Paragraf yang keenam termasuk paragraph deduktif
“Menentukan kekurangan (jika ada) arus kas kita pada masa depan untuk mencapai target itu”.

MAKALAH PANCASILA

OLEH :ANDREAS YUDHA P
26.08.1.1.003

BAB I
LATAR BELAKANG

Pancasila merupakan dasar negara, konsepnya dapat dilihat dari filsafat kenegaraan sebagai dasar falsafah negara yang ditetapkan dalam pembukaan UUD 1945. pancasila adalah hasil penelitian atas dasar pengetahuan dan pengalaman hidup yang luas.unsure-unsur pancasila merupakan adat kebiasaan, kebudayaan, dan agama-agama bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai filsafat mempunyai kedudukan yang mutlak, yang terlekat pada kelangsungan negara yang materiil maupun formil. Sifat-sifat yang terdapat dalam isi pancasila adalah abstrak, umum, universal, dan tetap tidak berubah .sehingga memungkinkan Pancasila dalam isis dan artinya adalah sama mutlak bagi seluruh bangsa, di seluruh tumpah darah dan seluruh waktu sebagai cita-cita bangsa dan negara Republik Indonesia.
Sebagai dasar filsafat atau dasar kerohanian negara, Pancasila meliputi ke-Tuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial.
BAB II
PERUMUSAN MASALAH
• Pendertian Pancasila
 Pancasila sebagai dasar filsafat dalam pembukuan UUD 1945.
 Hal pengertian isi mutlak daripada pancasila dasar falsafah negara.
BAB III
PEMBAHASAN


1. Pengertian Pancasila
a. Pengertian secara Etimologis
Secara etimologis,menurut tingkatannya, kata "Pancasila" berasal dari bahasa sansekerta dari India (bahasa kasta Brahmana, adapun bahasa rakyat biasa adalah prakerta) menurut Muh.Yamin, dalam bahasa Sansekerta, kata "Pancasila" meliputi dua macam pengertian, yaitu, Panca artinya lima dan sila , dengan huruf i biasa (pendek) artinya "batu sendi","alas" atau "dasar". Sedangkan "sila", dengan huruf i panjang, artinya "peraturan tingkah laku yang penting/ baik/ senonoh". Dalam khasanah bahasa Indonesia, kata "sila" menajdi "susila" yang artinya tingkah laku yang baik. Dengan demikian, perkataan "Panca-Sila" dengan huruf Dewanagari i, bermakna lima aturan tingkah laku yang penting (Yamin, 1960: 437).
b. Pengertian secara Historis
Perkataan Pancasila pada mulanya dipergunakan oleh pemeluk agama Budha di India. Ajaran Budha bersumber pada kitab suci Tri Pitaka, yang terdiri dari tiga buku besar, yaitu "Sutha Pitaka"," Abhidhama Pitaka", dan "Vinaya Pitaka".
Dalam ajaran Budha memuat berbagai ajaran moral di mana untuk setiap golongan berbeda kewajiban moralnya, seperti Dasa-sil, , dan Panca-sil. Ajaran Pancasila menurut Budha dimaksudkan sebagai lima aturan (larangan) atau "Five Moral Principles" yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh para penganut agama Budha biasa

2. Pancasila Sebagai Dasar Filsafat Dalam Pembukuan UUD 1945.
Falsafah Pancasila adalah suatu sistim pemikiran yang rasional, sistematis, tredalam dan menyeluruh tentang hakekat bangsa, negara dan masyarakat Indonesia yang nilai-nnilainya telah ada dan digali dari bangsa Indonesia sendiri.
Pancasila sebagai dasar filsafat negara ditetapkan dalam pembukuan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945 yang pembukuannya direncanakan pada tanggal 22 Juni 1945 dalam piagam Jakarta (Jakarta Charte). Sedangkan Pancasila sebagai dasar filsafat negara ditetapkan pada tanggal 1 Juni 1945 dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indomesia (BPUPKI).
Sebab-sebab Pancasila sebagai dasar filsafat negara adalah :
 Bangsa Indonesia sebagai asal mula bahan (cuaca materealis), terdapatlah dalam adat kebiasaan, kebudayaan dan dalam agama-agamanya.
 Seorang anggota BPUKI yaitu Bung Karno, bersama Bing Hatta menjadi pembentuk negara sebagai asl mula atau bangun (cuaca formalis) dan asal mula tujuan (cuaca finalis) dan dari Pancasila sebagai dasar filsafat Negara.

 Sejumlah sembilan orang anggota BPUPKI yang terdiri atas golongan-golongan kebangsaan dan agama, dalam penyusunan penyusunan rencana pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dimana terdapat Pancasila dan juga BPUPKI menerima rencana tersebut dengan perubahan sebagai asal mula sambungan baik dalam arti asal mula bentuk maupun dalam arti asal mula tujuan dari pancasila sebagai calon dasar falsafah Negara
Panitia Persiapan Keerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai asal mula karya (causa effisien), yang menjadikan Pancasila sebagai dasar falsafat Negara, sebelum ditetapkan oleh PPKI baru ada Pancasila sebagai filsafat negara.
Suatu hal yang sangat penting dan perlu dipertahankan lebih daripada yang sudah-sudah, bahwa bangsa Indonesia yang menjadi asal mula atau sebab bahan dari pada pancasila sebagai dasar falsafah negara. Unsur-unsurnya telah terdapat dalam adat kebiasaan, kebudayaan, dan agama-agama, maka sebenarnya sebenarnya bangsa Indonesia mempunyai tiga macam Pancasila, yang kultural, religius, dan yang kenegaraan, yang saling memeperkuat dan memperkembangkan.
Asal mula bahan (causa materialis) dan Sila-Sila Pancasila adalah yang setepatnya dan sebaik-baiknya, yaitu bangsa Indonesia sendiri dalam arti yang semutlak-mutlaknya adalah dalam hakekat kemanusiaannya jadi kekal dan tidak berubah.

3. Hal Pengertian Isi Mutlak Daripada Pancasila Dasar Falsafah Negara.
Isi sila-sila Pancasila pada hakekatnya merupakan satu kesatuan. Dasar filsafat negara Indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing merupakan suatu asa peradaban. Namun demikian sila-sila Pancasila merupakan satu kesatuan dan keutuhan. Setiap sila-sila merupakan suatu unsure (bagian yang mutlak) dari kesatuan Pancasila. Maka dasar filsafat negara adalah Pancasila. Pancasila merupakan suatu kesatuan yang bersifat majemuk yang konsekuensinya setiap sila tidak dapat berdiri sendiri dan terpisah dari sila yang lainnya.
Secara yuridis Pancasila sebagai dasar filsafat negara tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dalam alenia IV. Pancasila disebut sebagai dasar bahwa dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Hal ini meliputi segala peraturan perundang-undangan dalam negara,moral negara, kekuasaan negara, rakyat Indonesia wawasan nusantara pemerintahan dan aspek-aspek kenegaraan lainnya.
Pancasila sebagai dasar filsafat pada hakikatnya merupakan sumber nilai bagi bangsa dan negara Indonesia. Pancasila sebagai dasar filsafat negara didasarkan dan diliputi oleh nilai-nilai pancasila. Sehingga pancasila sebagai dasar filsafat negara pada hakekatnya merupakan asas kerohanian negara.
Pancasila sebagai dasar filfafat negara secara formal sebagai norma hukum dasar positif, obyektif, adalah mutlak tidak dapat diubah dengan jalan hokum. Secara materiil juga mutlak tidak dapat diubah, itu disebabkan oleh kehidupan kemasyarakatan, kebudayaan, kefilsafatan, kesusilaan, keagamaan merupakan sumber hukum positif, yang unsur-unsur intinya telah ada dan hidup sepanjang masa yang justru sekarang merupakan sila-sila dari pada pancasila itu. Sehingga pancasila sebagai dasar falsafah negara yang mempunyai sifat kebudayaan (kultural) dan sifat keagamaan (religius).
Agar dapat sesuai dengan yang demekian itu, maka isi pancasila sebagai dasar falsafah negara seharusnya tidak dapat dipengaruhi oleh segala sesuatu perbedaan seperti keagamaan, kenegaraan, dan golongan.
Adapun inti isi mutlak atau hakikat dari sila-sila pancasila sebagai dasar falsafah negara yang merupakan pengertian umum abstrak atau universal itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagi Sila Pertama ke-Tuhanan Yang Maha Esa
Kesesuiaan sifat dan keadaan dari pada dan didalam negara kita dengan hakikat daripada Tuhan sama dengan sebab yang pertama daripada segala sesuatu atau causa prima, yang selama-lamanya ada atau abadi yang hanya ada satu, yang merpakan asal mula dan tujuaan segala sesuatu,dari padanya tergantung sgala sesuatu,jadi sempurna dan kuasa, tidak berubah,tidak terbatas,zat yang mutlak ada yang mutlak yang adanya ialah harus,dalam arti mutlak,tidak dapat tidak serta pula pengatur tata tertib alam,maka wajib di taklimi dan ditaati.
b. Bagi Sila Kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Kesesuaian sifat-sifat dan keadaan dari pada dan di dalam negara kita dengan hakikat dari pada manusia dengan bersusun bhinika/majemuk/sarwa tunggal atau monopluralis, bertubuh jiwa, berakal rasa kehendak, bersifat perorangan makhluk Tuhan, yang menimbulkan kebutuhan mutlak baik yang kebutuhan maupun yang kejiwaan religis, diresapi akan rasa-kehendak, yang masing-masing dalam perwujudanya mutlak berupa nilai hidup kemanusian, terdiri atas kenyataan termasuk kebenaran, keindahan kejiwaan dan kebaikan serta nilai-nilai religius yang seharusnya sama-sama di pelihara dengan baik dalam kesatuan yang sombong atau peresatuan Indonesia.
c. Bagi Sila Ketiga Persatuan Indonesia
Kesesuaian sifat-sifat dan keadaan-keadaan daripada dan didalam negara kita dengan hakikat daripada satu sama dengan mutlak tidak dapat terbagi dan mutlak terpisah dari segala sesuatu yang lainya, merupakan diri pribadi atau mempunyai bentuk-bentuk tersendiri, susunan tersendiri, hal yang bersangkutan suatu keseluruhan yang terpisah dari hal lain dan di luar hal lain, mengambil atau mempunyai tempat tersendiri didalam ruangan.
d. Bagi Sila Keempat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan.
Kesesuaian sifat-sifat dan keadaan-keadaan daripada dan didalam negara kita dengan hakikat daripada rakyat sama denga keseluruhan penjumlahan semua warga dalam lingkungan daerah tertentu dan atau negara, dan segala sesuatu adalah untuk keperluan seluruh warga sebagai perseorangan, sebagai penjelmaan hakikat manusia, terutama penjelmaan hak-wajib demokrasi, ada dua macam yaitu, demokrasi kekuasaan atau politik dan demokrasi kepentingan atau fungsional.
e. Bagi Sila Kelima Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Kesesuaian sifat-sifat dan keadaan-keadaan daripada dan didalam negara kita dengan hakekat daripada adil sama dengan dipenuhi sebagai wajib segala sesuatu yang telah merupakan suatu hak dalam hubungan hidup kemanusiaan , sebagai penjelmaan hakekat manusia (dimana wajib lebih diutamakan daripada hak), meliputi hubungan antar negara sebagai pendukung wajib dan warga-warganya, disebut keadilan membagi (distributive),sebaliknya antar warga negara sebagai pendukung wajib dan negar, disebut keadilan bertaat (legal) antar sesama warga disebut keadilan sama-sama timbal balik (komutatif).
BAB IV
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Pancasila sebagai dasar filsafaat negara mempunyai kedudukan yang mutlak yang tidak dapat diubah lagi. Unsur–unsur pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak terpisahkan, artinya ada keterkaitan antara lima sila pancasila, pancasila sebaga dasar falsafah negara pada hakekatnya merupakan suatu sumber nilai bagi bangsa dan negara Indonesia.

2. SARAN
Warganegara Indonesia merupakan sekumpulan orang yang hidup dan tinggal di negara Indonesia Oleh karena itu, sebaiknya warga negara Indonesia harus lebih meyakini atau mempercayai, menghormati, menghargai, menjaga, memahami bahwa falsafah Pancasila adalah sebagai dasar falsafah negara Indonesia.Sehingga kekacauan yang sekarang terjadi ini dapat diatasi dan lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia ini.


DAFTAR FUSTAKA

Prof. Drs. Notonegoro SH, Beberapa Hal Mengengenai Falsafah Pancasila
Drs. Kaelan, M.S, Filsafat Pancasila
www.geogle.com

MAKALAH MSI (METODOLOGI STUDY ISLAM)

OLEH :ANDREAS YUDHA P
26.08.1.1.003

Buat Apa Shalat?!
Kecuali Jika Anda Hendak Mendapatkan Kebahagiaan Dan Ketenangan Hidup
Penulis Dr. Haidar Bagir
Pernebit Mizania
PT mizan Puataka
Cinere, depok maret 2008/safar 1429 H

ISI
Bagian 1 Ruh Salat

A. Pendahuluan : Fungsi Dan Manfaat Shalat
Shalat secara harfiah berarti doa. Dalam konteks ini yang dimaksud shalat adalah doa yang disampaikan denga tata cara –sarat dan rukun- yang khas dalam bentuk bacaan dan gerakan tertentu.dalam bahasa syariah inilah yang disebut dengan ash-shalawat al-qa’imah, terdiri atas shalat wajib 5 waktu dan beberapa shalat sunnah.
Al-Qur’an memberikan tempat yang utama kepada ibadah shalat ini, tidak kurang dari 234 ayat mengenai shalat , demikian pula Rasulullah SAW. Diantara nya sebuah ayat yang mengisahkan orang-orang yang dijebloskan kedalam Saqor-suatu lembah di Neraka Jahanam : ( Kepada mereka ditanyakan ): “apayang memasukkan kamu kedalam saqor?” ( mereka menjawab ): “kami dulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” ( QS Al-Muddatstsir [74]: 42-43 )
Rasulullah SAW bersabda : “ Takada pembeda antara orang mukmin dan orang kafir kecuali shalat”
Didalam al-Qur’an, shalat disebutkan dengan berbagai fungsi shalat :
1. Shalat sebagai pencegah dari perbuatan buruk.
2. Shalat adalat sumber petunjuk.
3. Shalat adalah saranakita minta pertolongan kepeda Alloh SWT.
4. Shalat adalah pelipur jiwa.
5. Shalat yang teratur dapat melahirkan kreativitas.
6. Shalat menjaga kesehatan tubuh.

B. Shalat Yang Sebenarnya
Meskipun semua ibadah kepada Alloh SWT itu baik, tapi shalat lah yang terbaik. Demikian dinyatakan oleh Al-Qur’an, hadis, dan ungkapan para ulama dan sufi. Rosululloh ber sabda, “sebaik-baiknya amal adalah shalat pada waktunya.” Sayyidina ‘Ali bin abi tholib menyatakan, “sesungguhnya amal perbuatan yang disukai Alloh adalah shalat”. Dan juga imam Ja’far Al-Shadiq-seorang pemimpin umat, sufi, dan filosof, guru imam Abu Hanifah Dan Imam Malik-juga menyeru, “Sesungguhnya, sebaik-baik amal disisi Alloh pada harikiamat adalah shalat.”
Pesan Syaikh
Putra syaikh Hasah Ali Isfahani berkata, “Dua orang pedagang pasar Masyhad bercerita kepada saya, bahwadahulu kami menglami mas sult dalam kehidupan kami. Intuk mencegah problem ini, kami berdua pergi ke tempat syaikh hasan ali isfahani. Disana banyak sekali orang yang sedang menumggu giliran untuk dapat berjumpa dengan beliau. Kamipn duduk menunggu giliran kami. Tiba-tiba, dari kerumunan orang banyak itu, syaikh memanggil kami berdua untuk menghadap. Beliau berkata kepada salah satu dari kami, ‘kamu harus melakukan sesuatu yang tidak kamu lakukan.’ Sementara kepada yang lain, beliau berkata, ‘kamu tidak boleh melakukan sesuatu yang kamu lakukan(yakni dari kalian ada yang tidak mengerjakan salat sementara yang lain mengkonsumsi minuman keras). Pergilah kalian berdua dan kerjakan tugas kalian agar keadaan kalian mengalami perubahan.’ Kami akui salah satu dari kami tidak tidak pernah salat dan yang lain peminum.”
“”sesuai dengan wasiat syaikh, kami mengamalkan apa yang dianjurkan kepada kami dan pada akhirnya kami dapat keluar dari kesusahan kami.

C. Salat Dan Keharusanj Khusuk (1)
Khusuk bermakna kesadaran penuhakan kerendahan kehambaan (ubudiyah) diri kita sebagai manusia dihadapan keagungan rububiyah (ketuhanan)
Alloh berfirman dalan al-qu’an QS al-baqoroa [2]:45
“sesungguhnya shalat itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk”
Dahuli setan paling lama mengerjakan shalat.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari bisyr bin mansyur berada di masjid sendirian, kemudian dia mengerjakan 2rokaat shalat yang sangat lama sekali. Selesai shalat dia mendapati seseorang duduk disampingnya. Bisyr berkata kepada orang tersebut, “janganlah anda tertipu dengan shalat saya, shalatnya setan jauh lebih lama daripada saya.”


D. Salhat Dan Keharusanj Khusuk (2)
khusuk seharusnya pemahaman yang benar tentang makna seluruh gerakan dan bacaan shalat serta menghujamkannya kedalam hati. Bahkan, pada puncaknya, bukan ucapan dan gerakan yang menghujam kehati, melainkan-sebaliknya-hati, yang yang menghayati seluruh makna bacaan dan gerakan shalat, mendiktekan kepada lidah apa yang harus diucapkan dan anggota tubuh yang harus digerakkan. Inilah yang disebut sebagai lafahhum, sebagai mana dimaksud oleh hadist :
“jadikanlah hatimu sebagai kiblat lidahmu; janganlah engkau gewrakkan lidahmu kecuali dengani aba-aba dari hatimu.”

E. Bagaimana Shalatdapat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar.
mudah dipahami bahwa shalat yang benar –yang dilakukan dengan khusuk (kehadiran hati) dan khudu’ (kerendahan diri)- akan menghasilkan penuhnya hati kita dengan kehadiran alloh SWT. Keadaan ini saja kiranya telah dapat menjadikan berbagai sumberdorongan kejahatan yang ada didalam hati kita –kecintaan terlebih pada dunia- terdesak ataumalah sepenuhmya terusir dari jiwa kita.
“alloh sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongga dada.”(QS Al_Ahzb [33]:4)

F. Keharusan Berbuat Baik Kepada Sesama.
Rosululloh mengajarkan, “Shalat tidak sempurna melainkan dengan zakat”
Inilah kiranya hikmah dibalik penjajahan ibadah shalat dengan membayar zakat dibanyak ayat Al-Qur’an, antara lain : “dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat………” (QS Al-Baqoroh [2];110)

G. Thuma’ninah Dan Flow.
“wahai jiwa yang tenang (muthma’innah). Pulanglah kamu kepada Robbmu dalam keadaan kamu rela dan tuhan rela kepadamu. Maka masuklah kamu kedalam golongan hamba-hambaKu. Dan, masuklah kamu kedalam surga-Ku.” (QS AL-Fjr [89]:27-30)
Ayat dioatas dengan indahnya mengisahkan akhir perjalanan jiwa manusia yang telah sampai kembali kepada puncak ketenangan –yang memang merupakan fitrahnya pada saat ia diciptakan pertama kali- usai perjuangan melawan jiwa yang mendorong-dorongnya menuju keburukan. Inilah sekaligus akhir kembalinya jiwa kepada asal-muasalnya (ma’ad): Tuhan. Karena bukankah sesungguhnya jiwa manusia adalah pancaran Ruh tuhan? Inna lil-lah wa inna ilaihi roji’un

H. Shalat Dan Pencerahan.
“jika menghadapi problem filosofis yang tak dapat kupecahkan …. Biasanya aku akn pergi ke masjid untuk neriktrikaf didalamnya. Maka kalau tidak di masjid itu aku mendapatkan pemecahannya, ia biasanya akan datang dalam mimpiku.” Ungkapan itu keluar dari Ibnu sina, seorang filosof dan ahli kedokteran islam.

I. Sahalat Meningkatkan Performa Kerja.
“Makin sedikit upaya, makin bertenaga.” –Bruce Lee
Remuk-Tunduk Bak Pecahnya Gunung
Alloh berfirman, “kalau sekiranya kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatkannya tunduk (khaasyi’ah) terpecah belah disebabkan takut kepada Alloh” (QS Al-Hasyr [59]: 21)
Malik bin Dinar biasa membaca ayat ini dan lalu berkata, “Aku bersumpah kepada kalian, tidaklah sempurna seorang hamba denga Al-Qur’an ini kecuali hatinya benar-benar remuk-tunduklayaknya gunung yang tunduk terpecah-belah itu (baca: khusuk) kepada Alloh.” (Al-Khusu’ fi Al-Shalah,Ibnu Rajab A-Hambali).

J. Apakah Shalat Sapat Diganti Ddengan Meditasi?
Shalat yang artinya –generiknya adalah doa, sampai batas tertentu memiliki kesamaan dengan meditasi. Didalamnya terkandung upaya mmengheningkan, menenangkan dan menenteramkan diri atau jiwa. Namun lepas dari keimanan bahwa shalat adalah ajaran dari tuhan, sang pencipta yang maha bijaksana, shalat memiliki beberapa sifat yang ada dalam meditasi.
Shalat merupakan meditasi yang melibatkan berbagai gerakan yang teratur. Gerakan ini memilki berbagai fingsi. Salah satunya adalah menyatakan berbagai symbol penyembahan kepada sesuatu yang Maha agung. Mudah dipahami bahwa symbol diperlukan sebagai sarana sebagai sarana untuk mengarahkan dan menanamkan tujuan dan makna perenungan itu bagi pemeluknya. Tanpa simbol-simbol, niscaya pemahanman dan penghayatan atasnya akan memerlukan lebih banyak energi pikiran, kalau bukannya malah menjadikan perenungan melantur kemana-mana.

Bagian 2 Meresapi Ruh Shalat

1. Kaum Sufi Dan Syariat.
2. Shalat Menurut Kaum Sufi (1)
3. Shalat Menurut Kaum Sufi (2)
4. Memaknai Shalat, Melalui Pernyataan Ibnu ‘Arabi Dalam Funus Al-Hikam.
5. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Imam Al-Ghazali.
6. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Abu Tholib Al-Makki (1)
7. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Abu Tholib Al-Makki (2)
8. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Abu Tholib Al-Makki (3)
9. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Rumi (1)
10. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Rumi (2)
11. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Ibnu Al-Qoyim Al-Jawziyah
12. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Syah Waliyullah Al-Dihlawi (1)
13. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Syah Waliyullah Al-Dihlawi (2)
14. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Ibnu Sina (1)
15. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Ibnu Sina (2)
16. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Ayatullah Khomeini (1)
17. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Ayatullah Khomeini (2)
18. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Muhammad Iqbal
19. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Murtadha Mutahhari (1)
20. Menaknai Shalat, Melalui Pernyataan Murtadha Mutahhari (2)

Ringkasan Pandangan Kaum Sufi Tentang Shalat
al-hujwiri: shalat mengandung seluruh tahapan perjalanan menuju tuhan, dari pertama hingga akhir, yang didalannya semua maqamat (stasiun-stasiun spiritual) terungkap. Bagi kaum sufi wudhu bermakna tobat, menghadap kiblat bermakna keberuntungan kepada seseorang pembimbing spiritual, berdiri dalam shalat bermakna kediaman-diri, membaca ayat-ayat Al-Qur’an ber makna perenungan batin (zikir), ruku’ bermakna kerendahan hati, sujud bermakna pengetahuan diri, membaca syahada bermakna kemesraan dengan tuhan, dan salam bermakna memisahkan diri dari dunia dan “melepaskan diri” dari ikatan “stasiun-stasiun” (maqamat)
Ibnu Arabi: shalat adalah puncak pertemuan antara tuhan dan hamba, yang melaluinya seorang manusia-yang memiliki penglihatan batin (dhu bashar)- dapat “melihat tuhan”. Shalat berarti penyaksian (musyahadah) dan penglihatan (vision,ru’yah) akan alloh.
Abu Thalib Al-Makki: babi orang yang mengenal Allah, setiap ucapan dalam shalat mengarah pada tingkatan dan penyaksian kepada Allah, yaitu1 mengimami, 2 berserah diri, 3 ber tobat, 4 bersabar, 5 ridha, 6 takut, 7 berharap, 8 bersyukur, 9 mencintai, dan 10 bertawakal kepadanya. Kesepuluh makna ini merupakan tingkatan-tingkata keyakinan.
Jalaludin Rumi: shalat adalah symbol seluruh kehidipan seseorang. Lewat shalat, kita mendapat cahaya petunjuk yang akan membimbing kehidupan kita. Shalat adalah juga percakapan paling dalam dan mesra antara pencipta dan yang dicipta.
Imam Al-Ghazali:L shalat memancarkan cahaya didalam hati, yang selanjutnya akan merupakan kunci-kunci bagi ilmu-ilmu mukasyafah, yang melaluinya terbuka pintu-pintu langit bagi sihamba yang sedang salat serta dihadapinya ia oleh Allah SWT denga wajahnya.
Syah Waliyullah Al-Dihlawi: shalat adalah induk amal, obat penyembuh.shalat juga merupakan sebab besar bagi timbulnya cinta Allah dan rahmatnya. Jika salat telah nenyatu dalam diri seseorang, ia akan lebur dalam cahaya Allah, dan dosa-dosanya akan terampuni. ia pun akan terhindar dari bencana-bencana yang disebabkan oleh kebiasaan buruk. Shalat merupakan cara paling utama untuk melatih jiwa rendah agar tunduk kepada akal dan mengikuti keputusannya.
Ibnu Al-Qoyim Al-Jawziyah: buah puasa adalah penyucian jiwa, buah zakat adalah penyucian harta, buah haji adalah penganpunan, buah jihat adalah penyerahan diri padanya-yang semuanya diberikan kepada Allah,untuk hambanya dengan surga sebagai imbakannya-maka buah shalat adalah menghadapnya hamba kepada Allah menghadapnya Allah kepada hamna. Dalam menghadap Allah terdapat semua buah amal perbuatan yang tersebut sebelumnya, dan sebuah amal perbuatan itu menghadap kepada Allah didalam shalat.
Ibnu Sina: Shalat adalah menghadapnya hamba kepada Pemelihara segenap yang ada dan Penguasa semua makhluk penyaksian Al-Haqq, dengan kalbu yang bening dan jiwa yang suci yang terbebas dari segala hasrat (duniawi). Ia merupakan perwujudan (manifestasi) kerinduan, ketundukan, dan rintihan tubuh particular yang terbatas dan hina ini kepada Pemelihara segenap yang ada dan Penguasa semua makhluk. Ibadah shalat merupakan simulasi/penyerupaan (terhadap alam semesta), untuk menyerupakan (perilaku) raga dengan ruh, dalam kepatuhan kepada Sang Pencipta yang Maha Tinggi. Dia menyuruh manusia untuk meniru shalat-akalnya dengan gerakan batiniahnya.
Ayatollah Khomeini: waktu-waktu shalat adalah saat-saat munajat dan tempat perjumpaan dengan Al-Haqq, saat-saat hamba hadir di haribaan Suci dan di hadapan Hadhrat yang agung. Dan bahwa Al-Haqq Ta’ala, Sang Penguasa yang Maha Agung, pada saat-saat tertentu memanggil hamba-Nya yang lemah, yang tidak memiliki apa-apa, untuk bermunajat kepada-Nya, dan mengizinkannya masuk ke tempat kehormatan, agar dia mendapatkan kebahagiaan abadi dan kesenangan kekal. Karena shalat merupakan jamuan rohani yang telah dihidangkan oleh kedua Tangan Keindahan dan Keagungan Al-Haqq. Demikian pula, shalat adalah ibadah yang paling menyeluruh dan paling lengkap diantara ibadah lainnya.

Tujuan

Agar masyarakat mengetahui pentingnya shalat bagi kehidupan. Dan betapa besar dan mulianya amalan shalat ini. Karena shalat adalah amalan pokok, atau sesuatuamalan yang dihitung pertama kali di akherat nanati.
Dan juga masyarakat mengetahui pendapat ulama’-ulama’ besar dan pendapat kaum sufi tentang pengertian shalat.
Target penulis
Target penulis tentang tulisannya telah ter capai, karena antusiasnya penbaca sehingga kurang dari satu tahun terbitnya cetakan pertama sudah mengeluarkan cetakan kedua.
Menurut saya setelah membaca buku ini, saya menjadi mengerti tentang pendapat-pendapat ulama’-ulama’ besar tentang shalat, sehingga penulis telah mencapai targetnya menulis buku ini dalam diri saya.

Metode
Kepustakaan:
 Penulis menggunakan ayat-ayat dalam al-qur’an dan hadis.
 Penulis juga menyampaikan dengan cerita atau kisah-kisah yang bersangkutan dengan amalan shalat.
 Penulis juga memyampaikan pendapat ulama’-ulama’ besar dam kaum sufi.
Tanya jawab.

Analisis

Menurut saya pendapat penulis dibagian tuma’ninah dan flow, terdapat kalimat yng ter masuk filsafat “karena bukankah sesungguhnya jiwa manusia adalah pancaran ruh tuhan?” itu bisa membingunggkan pembaca, karena pembaca bisa berpendapat bahwa manusia adalah percikan dari tuhan atau satu dengan tuhan. Kita mengetahui bahwa dalam al-qur’an manusia pertama kali (Adam AS) diciptakan dari tanah,dan selanjutnya dari bertemunya sel telur dan sperma,itu juga kalau ditelusuri juga berakhir dari tanah.
Kekurangannya di buku ini di bagian shalat yang sebenarnya, kurang menyampaikan tentang kesalahan shalat orang dimasa ini. Contohnya:
 Tidak boleh berjalan cepat mengejar ruku’. (buku 44 kesalahan orang shalat).
Sabda rosulullah SAW:
“apabila shalat dimulai, maka jangan kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa. Namun datangilah dengan berjalan, dan kamu harus tenang. Lalu,apapun yang kalian dapatkan (bersama imam), maka shalatlah. Dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR. bukhori)
 Menjauhkan kedua telapak kaki disaat shalat (buku 44 kesalahan orang shalat).
Ketika Rosullah sujud beliau mendekatkan kedua telapak kakinya dan meletakkan tumit disamping tumit satunya lagi, berbeda dengan yang dilakukan oleh sebagian orang dalam salatnya, yang menjauhkan jarak antara kedua telapak kakinya.

Kesimpulan

Shalat adalah ibadah yang mencakup tujuan dasar penciptaan manusia dan pengutusan Muhammad SAW. Kita mengetahui mi’raj adalah peristiwa antara Muhammad SWA dan Allah SWT.dan kisah perintah shalat.
Dari buku ini shalat hanyya diterima dari orang-orang yang memiliki kesadaran dan melakukan tindakan-tindakan untuk menyantuni dan mengurusi sesama yang yang memerlukan uluran tangan kita. Dalam surah Al-Ma’un (107) ayat 4-7.
Sumber ajaran islam itu menunjukkan tampa keraguan bahwa tujuan penciptaan manusia dan diutusnya Muhammad SWA dan diajarkannya islam adalah agar manusia menyaembah allah SWT, menyempurnakan akhlak mulia, dan agar rahmad tersebar kepada alam semesta.


Daftar Pustaka



Bagir, Haidar
Buat apa shalat?! Kecuali jika anda hendak mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup / Hidar Bagir. Penerbit Mizania, Bandung;2008;260 hlm.; 21cm

Bayumi, Syaikh Muhammad
44 kesalahan orang shalat. Penerbit PUSTAKA AL-KAUTSAR, Jakarta Timur Agustus 2003; x + 232 hlm.; 17,5 cm.

MAKALAH IAD/IBD/ISD

OLEH :ANDREAS YUDHA PRATAMA
26.08.1.1.003
DAKWAH&KOMUNIKASI/KPI


BAB I

A. LATAR BELAKANG

Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (http://id.wikipedia.org), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang, penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Wayang kulit merupakan sebuah karya seni drama boneka pipih yang terbuat dari kulit. Kulit merupakan bahan yang tidak tahan lama, sehingga para peneliti sulit menentukan umur wayang kulit itu, kapan pertama kali didesign oleh bangsa Indonesia. Mungkin saja dibuat lebih tua dari umur leluhur masyarakat Yogyakarta. Untuk menelusuri jejak perwayangan, maka dapat dilihat dalam karya-karya Sastra Jawa klasik. Dalam masa pemerintahan Raja Erlangga ditemukan buku "Harjuna Wiwaha" yang ditulis oleh Mpu Kanwa. Dalam buku tersebut tercantum sebaris kelompok kata walulang inukir, yang dalam bahasa Jawa menjadi lulang inukir, atau kulit binatang yang diukir. Dapat dikatakan pada masa tersebut telah dikenal wayang atau ringgit. Hal tersebut membuktikan bahwa wayang kult merupakan produk budaya yang dihasilkan jauh sebelum agama Islam masuk di Indonesia yang keberadaannya masih dipertahankan.

BAB II

PERUMUSAN MASALAH


 Sejarah perkembagan kesenian wayang
 Wayang merupakan budaya asli indonesia
 Bahan dan bagian wayang
 Wayang dan kepercayaan masyarakat
 Beberapa tokoh dan sifat-sifatnya
 Sikap mulia dalam pewayangan


BAB III
PEMBAHASAN



B. SEJARAH PERKEMBANGAN KESENIAN WAYANG

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa.
Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme. Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian banyak para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang dan masalah ini ternyata sangat menarik sebagai sumber atau obyek penelitian. Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang / Kediri. Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.
Masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh puteranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang Purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem ceritera wayang Purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran Wayang Purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya.
Para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan. Pada masa itu pagelaran wayang Purwa sudah diiringi dengan gamelan laras slendro. Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh puteranya yaitu Raden Kudalaleyan yang bergelar Suryaamiluhur. Selama masa pemerintahannya beliau giat pula menyempurnakan Wayang. Gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada pada daun lontar. Dengan gambaran wayang yang dilukis pada kertas ini, setiap ada upacara penting di lingkungan kraton diselenggarakan pagelaran wayang.
Pada jaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu wayang jenis ini biasa disebut wayang Beber. Semenjak terciptanya wayang Beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian Kraton, tetapi malah meluas ke lingkungan diluar istana walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Sejak itu masyarakat di luar lingkungan kraton sempat pula ikut menikmati keindahannya. Bilamana pagelaran dilakukan di dalam istana diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa Rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan. Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terakhir, kebetulan sekali dikaruniai seorang putera yang mempunyai keahlian melukis, yaitu Raden Sungging Prabangkara. Bakat puteranya ini dimanfaatkan oleh Raja Brawijaya untuk menyempurkan wujud wayang Beber dengan cat. Pewarnaan dari wayang tersebut disesuaikan dengan wujud serta martabat dari tokoh itu, yaitu misalnya Raja, Kesatria, Pendeta, Dewa, Punakawan dan lain sebagainya. Dengan demikian pada masa akhir Kerajaan Majapahit, keadaan wayang Beber semakin Semarak. Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala ; Geni murub siniram jalma ( 1433 / 1511 M ), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.
Pada masa itu sementara pengikut agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri. Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan ketrampilan para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para Wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan di-buat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki. Wayang dari kulit kerbauini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya di cat dengan tinta.
Pada masa itu terjadi perubahan secara besar- besaran diseputar pewayangan. Disamping bentuk wayang baru, dirubah pula tehnik pakelirannya, yaitu dengan mempergunakan sarana kelir / layar, mempergunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, mempergunakan blencong sebagai sarana penerangan, mempergunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang. Dan diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meskipun demikian dalam pagelaran masih mempergunakan lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata, namun disana- sini sudah mulai dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang. Adapun wayang Beber yang merupakan sumber, dikeluarkan dari pagelaran istana dan masih tetap dipagelarkan di luar lingkungan istana.
Pada jaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi karena diprada dengan cat yang berwarna keemasan.
Pada jaman itu pula Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri, berkenan menciptakan wayang jenis lain yaitu wayang Gedog. Bentuk dasar wayang Gedog bersumber dari wayang Purwa. Perbedaannya dapat dilihat bahwa untuk tokoh laki-laki memakai teken. Lakon pokok adalah empat negara bersaudara, yaitu Jenggala, Mamenang / Kediri, Ngurawan dan Singasari. Menurut pendapat Dr. G.A.J. Hazeu, disebutkan bahwa kata "Gedog" berarti kuda. Dengan demikian pengertian dari Wayang Gedog adalah wayang yang menampilkan ceritera-ceritera Kepahlawanan dari "Kudawanengpati"atau yang lebih terkenal dengan sebutan Panji Kudhawanengpati. Pada pagelaran wayang Gedog diiringi dengan gamelan pelog. Sunan Kudus salah seorang Wali di Jawa menetapkan wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana. Berhubung wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana, maka Sunan Bonang membuat wayang yang dipersiapkan sebagai tontonan rakyat, yaitu menciptakan wayang Damarwulan . Yang dijadikan lakon pokok adalah ceritera Damarwulan yang berkisar pada peristiwa kemelut kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu, akibat pemberontakan Bupati Blambangan yang bernama Minak Jinggo.

C. WAYANG MERUPAKAN BUDAYA ASLI INDONESIA

Pada zaman Islam ditemukan informasi bahwa telah ada wayang dengan bahan utama kulit kerbau, bahan pewarna putih, dengan bahan perekat dari tulang binatang. Oleh karenanya ajaran Islam mempengaruhi karya seninya. Islam melarang karya dekoratif berbentuk manusia atau makhluk hidup, sehingga karyanya diwujudkan dalam rupa yang realistik. Karya seniman muslim lebih memanfaatkan artistik dekoratif yang bermotif flora dan geometrik. Hasilnya produk-produk seni rupa dengan gaya stilistik yang rumit dan mengagumkan. Gaya penggambaran wayang kulit purwa pada masa Islam, dalam seni Rupa Modern dinamakan penggambaran manusia secara ideoplastik, yakni penggambaran berdasarkan apa yang dipikirkan. Pengaruh Islam pada wayang kulit purwa tidak saja pada bentuknya, tetapi telah merambah pula pada aspek simbolisasi dan berkaitan pula dengan aspek lainnya yang berhubungan dengan pergelaran wayang kulit purwa.
Sejak berdirinya Kasultanan Yogyakarta, dalam bidang kebudayaan, khususnya yang berkaitan dengan masalah kesenian, yang merupakan bentuk identitas kerajaan maka diciptakan bentuk-bentuk baru sesuai dengan ragam kehidupan dan sikap pimpinan Yogyakarta. Hal ini dibuktikan dengan diciptakannya sebuah tokoh wayang Arjuna Kanjeng Kyai Jayaningrum oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I.
Ciri khas dalam hasil budaya seperti kesenian wayang kulit, tidak dapat dilihat secara mudah, sehingga untuk melihat kekhususan yang dimiliki hanya terbatas pada gejala-gejala tampilan secara fisik yang setiap orang mampu mengidentifikasi. Kesulitan inilah yang terjadi dalam mengklasifikasi mengenai perbedaan atau keistimewaan dari gaya wayang kulit.
Dalam mengenal wayang kulit Gaya Yogyakarta dapat dicermati beberapa hal sebagai berikut :
1. Wayang yang bergerak, ditandai dengan tampilan posisi kaki yang melangkah lebar.
2. Tampilan bentuk tambun
3. Tangannya sangat panjang hingga menyentuh kaki
4. Tatahannya inten-intenan, terutama pada pecahan uncal kencana, sumping, turido, dan bagian busana lainnya.
5. Dilihat dari sunggingannya, menggunakan sungging tlacapan atau sungging sorotan, yaitu unsur sungging yang berbentuk segitiga terbalik yang lancip-lancip seperti bentuk tumpal pada motif kain batik.
6. Di bagian siten-siten atau lemahan, yaitu bagian di antara kaki depan dan kaki belakang, umumnya diwarna dengan merah.

D. BAHAN DAN BAGIAN WAYANG

Bahan untuk membuat wayang kulit di Jawa biasanya adalah kulit/tulang kerbau, mengingat pada saat itu kerbau kurang dibudidayakan, maka bahan untuk membuat wayang kulit Banjar ini berasal dari kulit sapi bahkan adapula yang terbuat dari kulit kambing. Secara umum bentuk dan fostur wayang kulit Banjar relatif lebih kecil apabila dibandingkan dengan wayang kulit yang asal dari Jawa, demikian pula dengan penatahan (ornamen), dan pengecatannya lebih sederhana, mengingat dalam pegelaran wayang kulit Banjar "lebih diutamakan oleh bayangan berdasarkan penglihatan dari belakang layar" , sehingga ornamen, detail dan warna ,kurang terlihat oleh penonton , karena dibatasi oleh layar.

E. WAYANG DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT

Dimasa yang lalu "wayang kulit" dipergunakan oleh masyarakat
Jawa untuk keperluan "ritual" seperti upacara ruwatan (ruwatan adalah
upacara yang diadakan untuk menolak bala - sial - yang dikarenakan
secara alami seseorang dilahirkan dengan kondisi membawa kearah
malapetaka - atau yang dipercaya akan membawa malapetaka - umpamanya :
anak tunggal, anak kembar, anak lelaki yang diapit oleh dua anak
perempuan dsb.)
Upacara lainnya yaitu untuk keperluan keselamatan
desa yang setiap bulan Suro (awal bulan tahun Jawa atau bulan Muharam
dalam tahun Islam) setahun sekali diadakan upacara pagelaran wayang
kulit semalam suntuk dengan cerita "Baratayuda" agar dalam tahun
berjalan desa akan diberi panen yang banyak dan keselamatan seluruh
warganya (cerita "Baratayuda", yaitu kisah peperangan antara Kurawa
dan Pandawa yang sesama darah Bharata untuk memperebutkan kerajaan
Hastina, dianggap cerita yang sakral yang tidak setiap dalang bisa
melaksanakan dan tidak setiap saat bisa dipentaskan).

F. BEBERAPA TOKOH

a) Yudistira
Sang raja yang konon kabarnya mempunyai darah putih,
dengan ciri utama kejujuran dan kesabaran, begitu jujurnya Yudistira
sehingga dia dikaruniai Dewata kereta yang tidak merambah bumi. Saat
pertama kali, dalam kisah Baratayuda, Yudistira mengucapkan kata yang
tidak jujur adalah ketika dia diminta oleh Sri Kresna untuk mengatakan
bahwa Aswatama telah gugur apabila ditanya oleh Pendita Durna (ayah
Aswatama), padahal yang mati adalah Gajah yang bernama Aswatama.
Pendita Durna tidak percaya bahwa Aswatama telah gugur oleh karena itu
dia menanyakan ke Yudistira yang terkenal kejujurannya. Yudistira
menjawab dengan melirihkan suara Gajah dan menekankan kata Aswatama
sehingga memberikan kesan bahwa Aswatama telah gugur dan pada saat itu
juga kereta Judistira merambah bumi karena Yudistira tidak lagi
sempurna kejujurannya. Yudistira adalah ksatria yang lebih menonjol
sifat kependetaannya dan kepemimpinannya sangat dihormati oleh
adik2-nya maupun oleh Sri Kresna.
b) Bima/Werkudoro
Jujur, tegas, disiplin, berani karena benar
c) Arjuna
Senang bertapa dan menuntut ilmu oleh karena itu sangat sakti
d) Nakula
Ahli dibidang pertanian dan kesejahteran rakyat
e) Sadewa
Ahli dibidang peternakan dan industri
f) Sri Kresna
Bijaksana, ahli strategi, antisipatif oleh karena itu sering dikatakan bisa mengerti sesuatu kejadian yang belum terjadi
g) Panakawan
Sebutan umum untuk para pengikut ksatriya dalam khasanah kesusastraan , terutama di Jawa Pada umumnya para panakawan ditampilkan dalam pementasan wayang, baik itu wayang kulit, wayang golek, , ataupun wayang orang sebagai kelompok penebar humor untuk mencairkan suasana. Namun di samping itu, para panakawan juga berperan penting sebagai penasihat nonformal ksatriya yang menjadi asuhan mereka.

G. SIKAP MULIA DALAM PEWAYANGAN

Dunia pewayangan juga tidak bisa lepas dari dunia kepemimpinan yang ideal, yaitu syarat yang berat untuk seseorang menjadi seorang raja/pemimpin negara karena hanya pemimpin yang ideal bisa mewujudkan masyarakat yang ideal. Salah satu ajaran yang paling umum diceritakan dalam pewayangan syarat pemimipin ideal adalah "hastabrata" atau delapan sikap/laku yang diambilkan dari sifat alam yaitu pemimpin harus mempunyai sikap :
a) mahambeg mring kismo (sifat bumi) : setia memberi kebutuhan hidup kepada siapa saja
b) mahambeg mring warih (sifat air) : selalu turun kebawah (rakyat) dan memberikan kesejukan atau rasa ketentraman kepada semua rakyat.
c) mahambeg mring samirana (sifat angin) : ada dimana saja atau bersikap adil kepada siapa saja
d) mahambeg mring candra (sifat bulan) : memberi penerangan yang sejuk dan indah (kebahagian dan harapan)
e) mahambeg mring surya (sifat matahari) : memberi sinar hidup keseluruh jagat raya atau sebagai sumber petunjuk hidup
f) mahambeg mring samodra (sifat laut/samudra) : luas, tempat membuang apa saja atau sifat kasih sayang dan kesabaran
g) mahambeg mring wukir (sifat gunung) : kukuh, teguh, tidak mudah
menyerah untuk membela kebenaran maupun rakyatnya
h) mahmbeg mring dahono (sifat api) : mampu membakar semangat dan memberi kehangatan atau mampu memerangi kejahatan dan memberikan ketenteraman / perlindungan buat rakyatn


BAB IV

PENUTUP


KESIMPULAN

Wayang merupakan seni budaya jawa yang terbuat dari kulit,yang dimainkan oleh dalang dan diiringi musiktradisional yang menceritakan tokoh tokoh yang patut dijadikan contoh, seperti Pandawa Lima yang mempunyai sifat yang luhur

SARAN
Hendaknya kita sebagai mbangsa indonesia yang memiiki budaya seni wayang kulit harus bisa melestarikannya.
DAFTAR FUSTAKA


http://www.google.co.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Wayang

Rabu, 17 Maret 2010

ARSIP&TUGAS-TUGAS KULIAH SEMESTER 1

FILSAFAT UMUM
EMPIRISISME
Oleh :ANDREAS YUDHA P
26.08.1.1.003

PENDAHULUAN


Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme ditujukan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Seorang yang beraliran Empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasip menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut penganut Empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otal dipahami dan akibat dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek
Yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi

.


ISI

Pengertian Empirisisme
Untuk memahami inti filsafat Empirisisme perlu memahami dahulu dua cirri pokok Empirisisme yaitu mengenai makna dan teori tentang pengetahuan. Filsafat Empirisisme tentang teorimakna amat berdekatan dengan aliran positivisme logis (logical positivisme) dan filsafat Ludwig Wittegenstein. Akan tetapi teori makna dan empirisisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Oleh karena itu, bagi orang empiris jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai pola (pattern) jumlah yang dapat diindera, dan hubungan kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama. Teori yang kedua, yaitu pengetahuan, dapat diringkaskan sebagai berikut. Menurut orang rasionalis ada kebenaran umum seperti kejadian tertentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran apriori yang diperolah lewat intuisi rasional. Empirisisme menolak pendapat itu. Tidak ada kemampuan intuisi rasional.

Pendapat Para Tokoh Tentang Empirisisme
Di antara tokoh dan pengikut aliran Empirisisme antara lain :

1) Francis Bacon (1210-1292 M)
Menurut Francis Bacon bahwa pengetahuan yang sebenarnya aalh pengetahuan yang diterima orang melalui persentua inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati. Pengetehuan haruslah dicapai dengan induksi.
Induksi adalah penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih luas daripada premisnya, sehingga merupakan cara berpikir dengan menarik simpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yangt bersifat individual. Keuntungan dari cara berpikir ini adalah mengkondisi berlanjutnya penalaran, dan sangat ekonomis.
Induksi pada umumnya disebut generalisasi. Dalam ilmu social dan lebih-lebih ilmu humaniora, induksi ini semacam Case-Study. Kasus manusia yang kongkret danindividual dalam jumlah terbatas dianalisis dan pemahaman yang ditemukan di dalamnya dirumuskan secara umum atau universal. Yang universal itu ditemukan di dalam dan dari yang singular. Pada metode induksi filosofis ini, hakikat manusia yang universal ditemukan di dalam yang singular atau individual. Berarti hakikat itu berlaku bagi semua kasus, dalam situasi manapun. Generalisasi filosofis demikian itu, menurut istilah Imanuel Kant, disebut transcendental. Pada penggunaan metode induksi, kesimpulan yang diperoleh pada dasarnya merupakan suatu keadaan yang boleh jadi benar (probabilitas).

2) Thomas Hobbes (1588-1679 M)
Menurut Thomas Hobbes berpendapat bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan.hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan ideralah yang merupakan kebenaran. Pengetsahua intelektual (rasio) tidak lain ada;ah merupakan penggabungan data-data inderawi belaka.

3) John Locke (1632-1704 M)
Ia menerima keraguan sementara yang diajarkan olah Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan oleh Descartes. Ia juga menolak metoda deduksi Descartes dan menggantinya dengan generalisasi berdasarkan pengalaman. “ Tidak ada sesuatu pada akal yang sebelumnya tidak ada pada indera kita”. Jadi, indera sebagai sesuatu hal yang primer, sedangkan akal sebagai hal yang sekunder yang fungsinya hanya sebagai penerima”.
Buku locke, Essay Concerming Human Understanding (1689 M), ditulis berdasarkan satu premis, yaitu semua pengetahuan dating dari pengalaman. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan idea untuk konsep tentang sesuatu yang berada di belakang pengalaman, tidak ada idea yangt diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato. Dengan kata lain, Locke menolak adanya innate idea;termasuk apa yang diajarkan oleh Descartes.Maka Locke menyatakan beberapa argumennya:
1. Dari jalan masuknya pengetahuan kita mengetahui bahwa innate itu tidak ada. Memang agak umum orang beranggapan bahwa innate itu ada. Ia itu seperti ditempelkan pada jiwa manusia jan jiwa membawanya ke dunia ini. Sebenarnya kenyataan telah cukup menjelaskan pada kita bagaimana pengetahuan itu dating, yakin melalui daya-daya ilmiah tanpa bantuan kesan-kesan bawaan, dan kita sampai pada keyakinan tanpa suatu pengertian asli
2. Persutujuan umum adalah argument yang kuat. Tidak ada sesuatu yang dapat yang dapat disetujui oleh umum tentang adanya innate idea justru saya dijadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
3. Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.
4. Apa innate idea itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak diakui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate idea justru saya dijadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
5. Tidak juga dicetakkan pada jiwa sebab pada anak idiot, ide yang innate tidak ada, padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berfikir.
Argumen ini secara lurus menolak adanya innate idea, sekalipun ada , itu tidak dapat dibuktikan adanya. Akan tetapi, di sini Locke. Lupa bahwa untuk menarik idea dari pengalaman-pengalaman itu diperlukan prinsip. Prinsip itu sialnya diambil bukan dari pengalaman. Leibniz, orang yang menjadi arah serangan Locke, mengatakan prinsip itu ada di dalam pikiran, dan bukan dari pengalaman. Denga mengikuti cara Locke itu, kata Leibniz, ia tidak berhasil meniadakan innate idea. Prinsip itu tadi adalah innate idea. Pandangan tabula rasa dari John Locke merupakan konsep epistotemologi yang terkenal. Dan inilah teori pengetahuan empirisisme.
Tabula rasa (blank tablet, kertas catatan yang kosong) yang digambarkansebagai keadaan jiwa adalah pandangan epistemologi yang terkenal menurut Locke. Satu lagi pandangan menurut Locke yaitu hubungan antar idea seperti dalam matematika, logika, dan konsep-konsep kebenaran trivial seperti “kuda adalah hewa,” dan semua itujuga datang dari pengalaman.
Perhatikanlah, dasar teori Locke itu adalah common sense (anggapan umum) Atentang perbedaan antara obyek fisik di dunia nyata serta inderawi dan obyek fisisk itu di dalam jiwa kita. Jadi. , kita dapat mengatakan bahwa sifat obyek (qualities) itu terdapat di dalam obyek itu di dunia nyata, seperti ukuran, bentuk, dan lain-lain, tetapi qualities itu tidak bebas dari pengaruh organ pengindera kita. Locke menyebutkan sifat (qualities) yang asli yang dimiliki obyek itu primary qualities (sifat pertama), dan sifat obyek sebagaimana ditangkap oleh indera disebutnya secondary qualities (sifat kedua).
Kesimpulan Locke ialah substance is we know not what, tentang subtansi kita tidak tahu apa-apa. Ia menyatakan bahwa apa yang dianggapnya subtansi ialah pengertian tentang obyek itu yang dibentuk oleh jiwa berdasarkan masukan dari indera.akan tetapi, Locke tidak berani menegaskan bahwa idea itu adalah persoalan subtansi agaknya adalah persoalan metafisika sepanjang masa;Berkeley dan Hume masih juga membicarakannya. (Bahan sebagaian besar dari Solomon, 1981.)

4) David Hume (1711-1776 M)
Solomon (1981:127) menyebut Hume sebagai ultimate skeptic, skeptis tingkat tinggi. Ia dibicarakan di sini sebagai skeptis dan terutama sebagai seorang empirissis. Menurut Betran Russel, yang tidak dapat diragukan lagi pada Hume ialah ia seorang skeptis (Solomon); 127).
Buku Hume, treatise of human nature (1739 M), ditulisnya tatkala ia masih muda, yaitu tatkala ia berumur 20 tahun bagian awal. Buku it tidak banyak diminati orang, karenanya Hume pindah ke subyek lain, lalu ia menjadi seorang yang terkenal sebagai sejarawan.
Kemudian, pada tahun 1748 ia menulis buku yang memangt terkenal, An Enquiry Concerning Human Understanding. Baik buku Tretise maupun buku enquiry kedua-duanya menggunakan metode empirisme, sama dengan Jhon Locke. Sementara Locke hanya sampai pada idea yang kabur yang tidak jelas berbasis pada sensasi (khususnya tentang subtansi dan Tuhan), sedangkan Hume lebih kejam. Dalam salah satu bab ia menulis sebagai berikut :
“Bila kita membuka buku di perpustakaan, membaca prinsip-prinsip yang diajarkan oleh empiris, malapetaka apa yang kita lakukan? Bila kita membaca satu jilid buku metafisika, apakah ia ada menyebutkan sesuatu tentang kuantitas? Tidak. Apakah buku itu berisi uraian tentang ekserimen tentang materi nyata? Tidak. Buang saja, buku-buku itu tidak berisi apa-apa selain kebimbangan dan ilusi.”
Hume mengajukan tiga argument untuk menganalisis sesuatu.salah satunya sebagai berikut : ada ide tentang sebab-akibat (kausalitas); suatu kejadian disebabkan oleh kejadian lain. Dari argument kausalitas ini muncullah apa yang oleh Hume disebut the strongest connection (hubungan terkuat) antara pengalaman kita dan the cement of universe yang merupakan kausalitas universal. Kausalitas universali ialah hokum yang mengatakan bahwa setiap kejadian pasti mempunyai penyebab. Misal, motor mogok, kita periksa karburator, system pengapian, dan lainya. Akan tetapi adakalanya penyebab tersebut tidak diketahui. Kita hanya tahu sebab. Prinsip-prinsip pada Leibniz disebut alasan yang mencukupi (sufficient reason); kata reason diganti dengan kata cause (sebab).pada argumennya Hume mendukung prinsip induksi. Dan itu adalah teori kausaitas tentang persepsi yang mendukung keyakinan kita tentang dunia luar diri. Hume sebenarnya mengambil kausalitas sebagai pusat utama seluruh pemikirannya. Ia menolak prinsip kausalitas universal dan juga menolak pinsip induksi dengan memperlihatkan bahwa tidak ada yang dapat dipertahankan, baik relation of ideas maupun matter of fact. Jadi, uraian di atas hanyalah “taktik” Hume dalam menegakkan sistemnya.
Semua obyek pemikiran manusia secara alamiah dapat dibagi dua, yaitu relation of ideas dan matter of fact. Yang dimaksud dengan relatin of ideas adalah pengetahuan yang jelas dengan sendirinya secara akal maupun secara intuitif seperti pada geometri, aljabar, dan aritematika. (Tiga kali lima sama dengan lima belas adalah hubungan antar jumlah). Proposisi jenis ini cukup diperoleh dengan operasi pemikiran tanpa bergantung pada ada atau tidaknya bukti di lapangan.
Disini di jelaskan pengertian matter of fact yaitu pengetahuan yang tidak terbukti kebenarannya maupun kepalsuannya seperti pernyataan “matahari akan terbit besok atau matahari tidak akan terbit besok”. Kedua-duanya tidak dapat dibuktikan. Pengetahuan tentang matter of fact kelihatannya ditemukan berdasarkan tilikan terhadap hukum sebab-akibat.
Bila berfikir a priori, dan begitu saja memutuskan sebab-akibat sebagaimana hal muncul di dalam jiwa kita, itu bebas observasi dan pengalaman, tidak akan menghasilkan pengertian tentang obyek itu.
Akhirnya Hume menyimpulkan bahwa idea kausalitas tidak juga dapat diperoleh melalui persepsi (ini adalah pengalaman).dalam “taktik” Hume di atas kelihatan bahwa pada akhirnya Hume menentang induksi. Ia juga menentang prinsip induksi untuk memprediksi masa depan.(masa depan seperti masa lalu ditentangnya). Prinsip induksi tidak dapat dipertahankan. Jadi mula-mula ia menolak adanya pengetahuan a priori, lalu ia menolak juga sebab-akibat, menolak pula induksiyang berdasarkan pengalaman. Jadi, habislah sudah segala macam cara memperoleh pengetahuan; semuanya ditolak. Inilah skeptis tingkat tinggi itu.
Argument Hume yang menentang prinsip kausalitas universal dan prinsip induksi pada dasarnya merupakan argument menentang rasionalisme pada umumnya. Ia mengatakan bahwa hanya dengan berfikir, tanpa informasi dari pengalaman, kita tidak mengetahui apa-apa tentang dunia. Dengan bantuan pengalaman,juga kita tidak dapat mengetahui hakikat sesuatu. Akan tetapi, sebenarnya, demikian Hume, hal itu tidak hanya pada filsafat, tidak hanya pada pemikiran akal. Bahkan tntangapakah matahari akan terbit besok, kita tidak tahu apa-apa. Kita berfikir: Bagaimana mungkin filsafat begitu jauh jaraknya dari kehidupan? Pantaslah ia disebut pemuncak skeptisme.

5) Herbert Spencer (1820-1903 M)
Filsafatnya berpusat pasa teori evolusi. 9 tahun sebelum terbitnya karya Darwin yang terkenal, The Origen Of Species (1859 M), Spencer sudah mnerbitkan bukunya tentang evolusi. Empirismenya terlihat jelas pad filsafatnya tentang The great un knowble. Menurutnya, kita hanya dapat mengenali fenomena atau gejala-gejala. Memang beanar dibelakang gejala tersebut ada suatu dasar absolute, pembersih tetapi yang absolute itu tidak dapat kita kenal. Secara prinsip, pengenalan kita hanya menyangkut relasi-relasi antara gejala-gejala. Di belakang gejala tersebut terdapat sesuatu yang oleh Spencer disebut yang tidak diketahui. Sudah jelas, demikian Spencer, metafisika menjadi tidak mungkin. (Bertens, 1979:76).
Apakah materi itu? Demikian spencer bertanya. Kita mendeduksi materi menjadi atom-atom, kemudian atom kita bagi menjadi lebih kecil sampai akhirnya pada unsure yang tidak dapat dibagi lagi karena kecilnya. Akan tetapi, bagian yang terkecil tidak dapat dipahami. Jadi,ruang dan waktu pada akhirnya adalah dua obyek yang tidak dapat diketahui. Gerak pun demikian keadaannya karena gerak iti terdapat di ruang dan waktu. Akhirnya spencer mengatakan, “idea-idea keilmuan pada akhirnya adalah penyajian realitas yang tidak dapat dipahami” (Durant:364). Inilah yang dimaksud dengan thegreat unknowable, teka-teki besar.
Setelah sampai pada metafisika yang tidak diketahui, yang perlu dihadapi sekarang ialah yang dapat diketahui. Kita mungkin dapat sampai pada suatu prinsip yang dapat digeneralisasikan pada seluruh obyek fisik. Ini mungkin saja materi yang dapat rusak, konservasi energi, konstinuitas gerakan, dan lain-lain. Prinsip umum ini tidak dapat dipahami, tetapi ia diketahui adanya. Ditemukan bahwa setiap benda alam mempunyai ritme sejak dari biola sampai gelombang lautan, planet dan bintang-bintang, panas dan dingin, pergantian musim, sejak dari unsure kecil sampai jatuhnya suatu Negara, munculnya sampai matinya bintang-bintang. Kita dapat melihat adanya ritme, irama,.ini adalah hokum-hukum yang tidak diketahui secara rinci, tetapi diketahui adanya: ujung semua hokum itu adalah tenaga.
Dengan demikian Spencer telah memperkenalkan kepada kita formula evolusinya yang terkenal, yang telah memberikan udara segar yang baru di Eropa, yang menghabiskan sepuluh jilid buku dan memerlukan waktu selama 40 tahun untuk menuliskannya, konsep Evolusi itu dijelaskanya sebagai berikut. Pertumbuhan planet-planet; pembentukan lautan dan pegunungan; metabolisme unsure-unsur oleh tanaman; perkembangan jantung dan janin; perkembangan otak setelah kelahiran;penyatuan keinderaan dan ingatan menjadi pengetahuan dan pemikiran, pengetahuan menjadi sains dan filsafat; perkembangan keluarga menjadi clan dan kota, seterusnya Negara dan persatuan Negara, selanjutnya”federasi dunia”; inilah yang dimaksud integrasi materi. Ada unsure-unsur yang membantu terwujutnya prose itu menuju tujuan sampai terbentuk suatu ikatan dan kerja sama untuk hidup. Selanjutnya tujuan Spencer membicarakan evolusi kehidupan, evolusi pemikiran, evolusi masyarakat, dan evolusi moral. (lihat Durant: 370-392).
Kehidupan adalah penyesuaian terus-menerus mengenai hubungan antara dalam dan luar diri. Memang definisi ini agak kabur karena perbedaan itu akan sulit dihilangkan disebabkan oleh banyaknya perbedaan tipe darah yang menyebabkan perbedaan sifat-sifat masing-masing. Selain itu, perbedaan juga ada karena perbedaan waktu (zaman). Ini memerlukan penyesuain yang khas serta ukuran buruk-baik yang berubah-ubah dan bermacam-macam. Definisi Spencer diatas kurang mampu mengatasi fakta ini.

KESIMPULAN

Empirisisme adalah aliran dalam filosuf yang menekankan peranan pengalaman dalam memperolah pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal..
Empirisisme bertentangan dengan Rasionalisme.
Empirisme menolak pengetahuan yang semata-mata berdasarkan akal karena dipandang sebagai spekulasi belaka yang tidak berdasarkan realitas, sehingga berisiko tidak sesuai dengan kenyataan. Pengetahuan sejati harus dan seharusnya berdasarkan kenyataan sejati yakni realitas.





DAFTAR PUSTAKA

DR. Ahmad Tafsir, 1990, Filsafat Umum Akal Dari Hati Sejak Thales Sampai James. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Drs. Mudzakir, 1997, Filsafat Umum.Bandung: CV Pustaka Setia
I.R. Poedjawijatna. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. P.T. Pembangunan. Jakarta. 1980.
Drs. Sudarto, M.Hum, 1996, Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
H. Syadali, Ahmat, Drs. MA., Filsafat Umum. CV. Pustaka Setia. Bandung. 1997.
www.wikipedia.com/filsafat/empirisisme